Desain Interior UNIKOM
PROFIL

Anda sedang berada di > Profil > Prospek Kerja

Prospek Pekerjaan Bagi Lulusan Desain Interior

PROSPEK PEKERJAAN BAGI LULUSAN PROGRAM PENDIDIKAN STRATA SARJANA/S1 DESAIN INTERIOR

Desain interior adalah suatu bidang keahlian perancangan bagian dalam (interior) sebuah bangunan gedung. Dalam aktivitas profesinya perencana desain interior menghasilkan konsep gubahan bagian dalam sebuah gedung secara mandiri dilandasi oleh kreatifitas serta kemampuan berfikir konseptual dan filosofis.

Prospek tersedianya lapangan pekerjaan bagi lulusan program pendidikan strata Sarjana Desain Interior Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) cukup baik dan menjanjikan.

Hal ini dilandasi oleh beberapa hal antara lain:

  • Eksistensi profesi yang sudah mantap
  • Kondisi perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan strata sarjana bidang Desain Interior di Indonesia
  • Kebutuhan tenaga ahli bidang Desain Interior di Indonesia
  • Kaitan dengan rencana otonomi daerah
  • Kekhususan yang dimiliki oleh program pendidikan strata Sarjana Desain Interior UNIKOM.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, kelima hal tersebut diatas akan diuraikan secara lebih rinci sebagai berikut:

A. Eksistensi Profesi

Program pendidikan strata bidang Desain Interior di Indonesia pertama kali dibuka oleh Institut Teknologi Bandung pada tahun 1957. Saat itu profesi ini belum mendapat pengakuan secara formal oleh pemerintah bahkan belum dikenal dan diketahui eksistensinya oleh masyarakat. Namun karena kebutuhan faktual, profesi ini mulai dikenal dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Pengakuan formal dari pemerintah didapat pada sekitar dasawarsa tujuhpuluhan pada saat Direktorat Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan Bappenas menetapkan secara resmi bahwa perencanaan desain interior adalah salah satu profesi yang berkaitan dengan pembangunan gedung-gedung terutama milik pemerintah. Pengakuan ini setara dengan profesi lainnya yang terlebih dahulu telah mendapat pengakuan antara lain arsitektur, sipil, elektrikal dan mekanikal.

Pengakuan ini berlanjut pula pada pemberlakuan peraturan mengenai imbalan finansial (design fee) tenaga ahli yang tercantum pada Billing Rate Bappenas yang juga diberlakukan bagi perencana desain interior secara konsekuen termasuk pemberlakuan seluruh stratifikasinya.

Organisasi profesi desain interior diresmikan pada tanggal 17 Januari 1983 dengan nama Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), menampung calon anggota sarjana desain interior lulusan pendidikan dalam negeri dan luar negeri.

Kemudian pada tahun 1985 secara resmi HDII diterima menjadi anggota penuh organisasi profesi internasional, Internasional Federation of Interior Designers/IFI pada saat berlangsungnya Kongres IFI di Paris.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Desain Interior merupakan suatu profesi yang relevansinya telah mantap dalam kehidupan masyarakat sehingga para ahli/pelakunya perlu disiapkan melalui pendidikan formal.

B. Perguruan Tinggi Penyelenggara Program Pendidikan Strata Sarjana / S1 Bidang Desain Interior

Di seluruh Indonesia saat ini tercatat ada 12 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang menyelenggarakan pendidikan Sarjana Strata S1 bidang desain interior, yaitu:

1. Institut Teknologi Bandung / ITB, Bandung

2. Institut Seni Indonesia / ISI, Yogyakarta

3. Universitas Udayana, Denpasar

4. Universitas 11 Maret, Solo

5. Institut Teknologi Surabaya / ITS, Surabaya

6. Universitas Trisakti, Jakarta (swasta)

7. Universitas Tarumanagara, Jakarta (swasta)

8. Institut Kesenian Jakarta / IKJ, Jakarta (swasta)

9. Universitas Pelita Harapan / UPH, Jakarta (swasta)

10. Institut Teknologi Nasional / ITENAS, Bandung (swasta)

11. Sekolah Tinggi Ilmu Seni Indonesia / STISI, Bandung (swasta)

12. Sekolah Tinggi Desain Indonesia / STDI, Bandung (swasta)

Seluruhnya enam perguruan tinggi negeri dan enam swasta.

Kapasitas tampung program pendidikan sarjana desain interior banyak ditentukan oleh kebutuhan fasilitas fisik spesifik yang diperlukan, pola pengajaran yang bersifat praktika disamping kuliah teoritis dan rentang kendali dosen terhadap mahasiswa yang terbatas.

Berdasarkan hal tersebut, maka kapasitas tampung sebuah program pendidikan desain interior yang ideal berkisar antara 30-40 orang mahasiswa.

Apabila diasumsikan bahwa setiap perguruan tinggi di Indonesia semuanya sama dalam hal kapasitas tampung mahasiswa dan rasio kelulusan sarjana sama (perkiraan optimistis 60%), maka:


· Setiap tahun tersedia kesempatan studi sebanyak kurang lebih 12 X 40 = 480 orang mahasiswa lulusan sekolah menengah (intake).

· Dihasilkan kurang lebih 6% X 480 = 288 orang sarjana lulusan (output).

Jumlah ini dianggap belum cukup memadai bagi negara sebesar Indonesia yang memiliki luas wilayah dan jumlah penduduk yang sangat besar yang berdampak pada kebutuhan fisik termasuk gedung-gedung untuk kota besar yang dimilikinya.

C. Kebutuhan Tenaga Ahli Desain Interior di Indonesia

Secara umum, lapangan pekerjaan bagi tenaga ahli Desain Interior, lulusan program pendidikan strata Sarjana cukup luas dan bervariasi, antara lain di bidang perencanaan / konsultan, industri manufaktur, perdagangan, pendidikan serta birokrasi pemerintah.

Untuk mendapatkan gambaran umum mengenai lapangan pekerjaan ini baiklah kita menyimak fakta dan angka yang telah dihimpun oleh Program Studi Desain Interior pada jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung yang telah melaksanakan inventarisasi mengenai lapangan pekerjaan yang didapat oleh alumni, meliputi lulusan tahun 1975 sampai dengan 1998.

Dari seluruh alumni yang tercatat dan dihubungi, 79% memberikan informasi tempat bekerja sebagai berikut:

1. 42.8% menjadi konsultan, baik mandiri (freelance) maupun bergabung pada biro perencanaan resmi berbentuk badan usaha.

2. 26.3% bekerja pada industri manufaktur bidang desain interior (mebel, komponen interior, asesoris interior, pengembang perumahan / real estat dan lainnya)

3. 12.2% bekerja pada industri atau lembaga berkaitan dengan bidang lain (bank, hotel, toko swalayan, pabrik, bandar udara, gedung pameran, stasiun televisi dan lainnya).

4. 17.1% menjadi pengajar pada perguruan tinggi bidang desain atau pada sekolah menengah umum serta kejuruan.

5. 1.6% menjadi birokrat pada instansi pemerintah (Departemen Pendidikan, Departemen Industri dan lainnya).

Demikianlah gambaran kasar tentang lapangan kerja yang didapat oleh lulusan program pendidikan sarjana desain interior ITB yang merupakan program pendidikan tertua di tanah air.

Data tersebut kiranya dapt diasumsikan berlaku sama bagi semua perguruan tinggi sejenis yang ada di Idonesia karena pada pendidikan formal Desain Interior terkandung beberapa faktor obyektif yang sama dimanapun program pendidikan itu diselenggarakan (pola pengajaran, fasilitas fisik yang diperlukan, rentang kendali dosen terhadap mahasiswa, dan lainnya). Butir 1, 2, 3 dan 4 merupakan lapangan pekerjaan yang memerlukan keahlian baku Desain Interior karena berkaitan langsung dengan gubahan ruangan dalam bangunan gedung, baik konsep maupun pelaksanaan fisik. Ketiga butir ini meliputi rata-rata 86.2% lulusan setiap tahun.

Hal ini mencerminkan bahwa program pendidikan Desain Interior memiliki relevansi pendidikan yang tinggi.

Apabila kondisi perekonomian Indonesia pulih dari krisis yang saat ini dialami dan berkembang seperti yang diharapkan maka perkembangan itu secara tidak langsung akan terasakan dampaknya terutama pada butir 1, 2, 3 dan 4 tersebut diatas.

Sesuai dengan aturan Billing Rate Bappenas, pada sebuah biro perencanaan, lazimnya formasi personel perencana meliputi empat eselon, yaitu:

  • Desainer Utama (Chief Designer)
  • Desainer Senior (Senior Designer)
  • Desainer Yunior (Junior Designer)
  • Juru Gambar (Drafter

Sesuai dengan deskripsi tugasnya maka tiga eselon pertama disamping kemampuan teknis, memerlukan pula kemampuan berfikir konseptual untuk melaksanakan tugasnya. Kemampuan ini terutama dapat dicapai melalui pendidikan formal strata Sarjana.

D. Otonomi Daerah

Otonomi Daerah telah dicanangkan dan mulai digulirkan di Indonesia pada tanggal 1 Januari 2001, dan secara bertahap terus dimatangkan. Perkembangan ini kemungkinan akan menimbulkan dampak tidak langsung pada penyelenggaraanpembangunan sarana fisik di samping sarana pendidikan di daerah.

Hal ini diduga kuat akan mendorong berkembangnya biro-biro perencanaan dan pendidikan bidang desain yang pada beberapa tahun pertama akan memerlukan sarjana lulusan sekolah desain yang telah ada sekarang.

E. Kekhususan Program Pendidikan UNIKOM

Pada waktu akhir-akhir ini dalam proses perancangan dan perencanaan pembangunan sarana fisik termasuk gedung-gedung, terjadi perkembangan pesat kearah pemanfaatan teknologi informasi dan teknologi komputer.

Sebagai contoh dalam proses presentasi gagasan desain dan proses tender (pelelangan) pekerjaan sudah mulai lazim berkas desain dimunculkan dalam bentuk perangkat lunak (software). Pola konvensional dalam bentuk cetak biru photocopy sudah mulai ditinggalkan kecuali untuk keperluan di lapangan (site).

Untuk menjawab tuntutan perkembangan ini dituntut para sarjana desain yang menguasai teknologi informasi dan teknologi komputer.

UNIKOM yang melaksanakan program pendidikan desain berbasis pendidikan teknologi dan komputasi mutakhir menjawab tuntunan perkembangan zaman tersebut diatas

F. Kesimpulan

Melalui telaah yang telah diuraikan tersebut diatas, dapat dirangkum bebrapa hal sebagai berikut

· Bahwa profesi desain interior di Indonesia telah memiliki eksistensi yang mapan dan diakui secara formal oleh pemerintah

· Sementara itu oleh lembaga yang melaksanakan program pendidikan sarjana desain interior jumlahnya masih terbatas dan belum menghasilkan jumlah sarjana yang mencukupi bagi kebutuhan nasional

· Bahwa pendidikan sarjana desain interior di UNIKOM berbasis teknologi informasi dan teknologi komputasi mutakhir merupakan antisipasi terhadap perkembangan masa depan.

Berdasarkan rangkuman tersebut kiranya dapat disimpulkan bahwa program pendidikan strata Sarjana / S1 bidang desain interior di UNIKOM relevan dan layak (feasible) dilaksanakan.